Fasies
gunung api dan aplikasinya
Berdasarkan bentuk bentang alam dan asosiasi batuan penyusun,
suatu kerucut gunung api komposit dapat dibagi menjadi fasies sentral, fasies
proksimal, fasies medial, dan fasies distal. Secara bentang alam, pembagian
tersebut dimulai dari pusat erupsi di bagian puncak, menurun ke arah lereng,
kaki,serta dataran di sekelilingnya. Fasies sentral gunung api dicirikan oleh
asosiasi batuan beku intrusi dangkal, kubah lava, dan batuan ubahan
hidrotermal. Fasies proksimal tersusun oleh perselingan aliran lava dan breksi
piroklastika. Fasies medial terutama berupa breksi piroklastika, breksi lahar, dan
konglomerat, sedangkan fasies distal lebih banyak disusun oleh batuan
epiklastika berukuran butir pasir-lempung. Tuf dapat tersebar mulai dari fasies
proksimal sampai distal karena berbutir halus dan ringan. Pembagian fasies
gunung api di dalam batuan berumur Tersier atau lebih tua dilakukan dengan
pendekatan inderaja - geomorfologi, stratigrafi batuan gunung api, vulkanologi
fisik, struktur geologi, serta petrologi - geokimia. Pembagian fasies gunung
api ini dapat dimanfaatkan dalam rangka pencarian sumber baru di bidang mineral
dan energi, penataan lingkungan, serta mitigasi bencana geologi.
Kata
kunci: kerucut gunung api komposit, fasies gunung api
Di Indonesia, gunung api dan hasil kegiatannya yang berupa
batuan gunung api tersebar melimpah baik di darat maupun di laut. Berdasarkan
umur geologi, kegiatan gunung api di Indonesia paling tidak sudah dimulai sejak
Zaman Kapur Atas (Martodjojo, 2003) atau sekitar 76 juta tahun yang lalu
(Ngkoimani, 2005) hingga masa kini. Namun demikian, sejauh ini para ahli
kebumian masih sangat sedikit yang tertarik untuk mempelajari ilmu gunung api
atau vulkanologi. Schieferdecker (1959) mendefinisikan gunung api (volcano)
adalah sebuah tempat di permukaan bumi dimana bahan magma dari dalam bumi
keluar atau sudah
keluar
pada masa lampau, biasanya membentuk suatu gunung, kurang lebih berbentuk
kerucut yang mempunyai kawah di bagian puncaknya) Di dalam Sandi Stratigrafi
Indonesia (Martodjojo
dan
Djuhaeni, 1996) fasies adalah aspek fisika, kimia, atau biologi suatu endapan
dalam kesamaan waktu. Dua tubuh batuan yang diendapkan pada waktu yang sama
dikatakan berbeda fasies, kalau kedua batuan tersebut berbeda ciri fisika,
kimia, atau biologinya. Istilah fasies dan litofasies tersebut lebih dititik beratkan
untuk batuan sedimen. Oleh sebab itu untuk fasies gunung api perlu dilakukan modify
kasi, yakni sejumlah ciri litologi batuan gunung api dalam
kesamaan
waktu pada suatu lokasi tertentu.
Secara bentang alam, gunung api yang berbentuk kerucut dapat
dibagi menjadi daerah puncak, lereng, kaki, dan dataran di sekelilingnya.
Pemahaman ini kemudian dikembangkan oleh Williams dan McBirney (1979) untuk
membagi sebuah kerucut gunung api komposit menjadi 3 zone, yakni Central
Zone, Proximal Zone, dan Distal Zone. Central Zone disetarakan
dengan daerah puncak kerucut gunung api, Proximal Zone sebanding
dengan daerah lereng gunung api, dan Distal Zone sama dengan
daerah kaki serta dataran di sekeliling gunung api. Namun dalam
uraiannya, kedua penulis tersebut sering menyebut zone dengan facies,
sehingga menjadi Central Facies, Proximal Facies, dan Distal
Facies
Pembagian fasies gunung api tersebut dikembangkan oleh Vessel
dan Davies (1981) serta Bogie dan Mackenzie (1998) menjadi empat kelompok, yaitu
Central/Vent Facies, Proximal Facies, Medial Facies, dan Distal
Facies (Sesuai dengan batasan fasies gunung api, yakni sejumlah ciri litologi
(fi sika dan kimia) batuan gunung api pada suatu lokasi tertentu, maka masing-masing
fasies gunung api tersebut dapat diidentifi kasi berdasarkan data:
1.
inderaja dan geomorfologi,
2.
stratigrafi batuan gunung api,
3.
vulkanologi fi sik,
4.
struktur geologi, serta
5.
petrologi-geokimia.
Fasies
sentral merupakan bukaan keluarnya magma dari dalam bumi ke permukaan. Oleh
sebab itu daerah ini dicirikan oleh asosiasi batuan beku yang berupa kubah lava
dan berbagai macam batuan terobosan semi gunung api (subvolcanic intrusions)
seperti halnya leher gunung api (volcanic necks), sill, retas,
dan kubah bawah permukaan (cryptodomes). Batuan terobosan dangkal
tersebut dapat ditemukan pada dinding kawah atau kaldera gunung api masa kini,
atau pada gunung api purba yang sudah tererosi lanjut. Apabila erosi di fasies
sentral ini sangat lanjut, batuan tua yang mendasari batuan gunung api juga
dapat tersingkap.
Fasies
proksimal merupakan kawasan gunung api yang paling dekat dengan lokasi sumber
atau fasies pusat. Asosiasi batuan pada kerucut gunung api komposit sangat
didominasi oleh perselingan aliran lava dengan breksi piroklastika dan
aglomerat Dari pengamatan di lapangan daerah Kabupaten Kulon Progo dan
Kabupaten Wonogiri,
Fasies
medial dan fasies distal gunung api purba (Tersier) sudah tertutup oleh batuan
karbonat. Untuk gunung api purba, berumur Tersier
atau lebih tua, dimana bentuk kerucut kompositnya
sudah tidak jelas, identifi kasi fasies gunung api
perlu diteliti berdasarkan pada pendekatan
analisis inderaja-geomorfologi, stratigrafi batuan gunung api, vulkanologi fisik, struktur geologi, serta petrologi geokimia.
Pembagian fasies gunung api dapat dimanfaatkan
untuk
mendukung pencarian sumber baru mineral dan energi, penataan lingkungan hidup
termasuk
tata ruang dan penyediaan air bersih, serta mendukung usaha penanggulangan
bencana
geologi.
Komentar
Posting Komentar